بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Rabu, 04 September 2013

Uang

Uang” itulah segelintir kata yang sangat fenomenal oleh setiap orang, mereka menjadikan uang sebagai salah satu yang sangat-sangat dibutuhkan dalam hidup mereka. Tanapa uang mereka beranggapan akan mati, tidak bias menikmati kehidupan dunianya.
Sekarang semuanya adalah uang, salah satu pepatah barat mengatakan “times is money” adalah bukti bahwa setiap detik kehidupan merupakan uang. Tidak jarang mereka berbuat semuatu yang ujung-ujungnya adalah ingin mendapatkan uang.
Begitu besar pengaruh uang bagi setiap hal dan semua orang. Saat mereka  menangis kehilangan sesuatu yang sangat beharga dalam hidupnya, disuguhkan uang air mata mereka akan berhenti menetes. Mereka yang hatinya kalud, galau, bahkan marah besar akan berubah raut wajahnya jika uang dihadapannya. Si miskin akan gembira melihat uang, si kaya bertambah sombong dengan uang. Itulah uang merubah segalanya.
Salah satu tokoh dunia, yang merupakan tokoh sejati adalah Nabi Muhammad SAW, beliau begitu bertnggung jawab menegakkan Agama Allah SWT. Tidak ada yang mengahlangi beliau untuk berdakwah, bahkan uang sekalipun. Ketika kaum Quraisyh mengiming-imingkan uang dan kekuasaan kepada beliau untuk memberhentikan dakwahnya, beliau tetap teguh terhadap pendiriannya, “jangankan uang, kau amcam aku dengan kematian, aku tetap menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini. Sungguh cantik sikap beliau, andai pada masa sekarang ini setiap orang bersikap demikian. Kita hanya bias berharap untuk tidak dibutakan lagi oleh orang.
Jika kita melirik negeri kita sendiri, dari berates-ratus orang pejabat bahkan lebih, dapat dihitung dengan jari yang mereka yang hamper bersifat seperti Nabi Muhammad SAW. Yang lainnya sirna karena uang, mereka tidak lulus ketika dihadapkan dengan uang. Kecintaan mereka terhadap uang, membuat mereka tidak peduli dengan sesamanya, disamping itu kecintaan terhadap diri sendiri membuat mereka terlena.
Ketika mereka menegakkan keadilan sipemaling ayam, pemaling dijatuhkan hukuman seberat-beratnya. Padahal maling ayam tidak sedikitpun merugikan Negara. Berbeda dengan maling berdasi, dibalik dasinya yang rapi tersimpan rasa tamak dan ingin memiliki semuanya. Ketika mereka maling berdasi terbongkar kejahatnya, mereka disidang lalu dijatuhkan hukuman yang ringan oleh penegak keadilan yang sama. Ini tidak adil!!! Negara rugi bertriliun-triliun rupiah. Dalam kasus ini bukan hanya maling berdasi saja yang salah, para penegak hukum juga salah. Kenapa mereka tergoda dengan uang maling berdasi. Nauzubillah.. ternyata uang merusak hati mereka untuk menjadi hakim yang adil dan bijaksana.
Uang memang sangat dibutuhkan, banyak hal yang bias diwujudkan dengan uang. Tapi uang bukan segalanya, kebahagian hati tidak mampu dibeli dengan uang. Jika kita bias membatasi diri dan lebih beriman lagi, Insyaallah uang tidak akan membelengggu kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar