Ketika seorang bayi akan lahir
ke dunia ini, dia berbicara dengan ALLAH. Ya ALLAH aku ragu untuk tinggal
dibumi nantinya.
“Apa yang kamu ragukan?”.
“Aku ragu, apakah nanti
apabila aku dibumi-Mu aku akan tetap bisa sujud padamu? Aku ragu apakah
dibumi-Mu nanti ada orang yang akan menyayangiku? Seperti kasih sayang Engkau
kepada ku”.
Tuhan menjawab,
“Disana kamu masih bisa bersujud kepada-Ku,
karena kamu Ku titipkan pada keluarga yang patuh akan agamaku, tapi jika
kemudian mereka berubah kamulah yang harus membuat mereka kembali ke jalan–Ku.
Untuk kasih sayang, seperti yang kukatakan sebelumnya di sana ada seseorang yang akan menyayangimu,
mencintaimu, dan menjagamu yaitu wanita itu, wanita yang kutitipkan kamu
kepadanya, wanita yang melahirkan mu,
itulah dia, kamu akan memanggilnya dengan sebutan IBU. Dia akan menjagamu dari
siapapun yang mengganggu mu, memberikan seluruh cinta dan kasihnya untukmu”.
Setelah mendengar penjelasan itu si bayi
tersenyum manis dan sangat yakin sekali dengan kasih sayang seorang ibu.
Ketika senja berangsur-angsur datang meninggalkan sore, sang mentari mulai terbenam dan bunyi jengkrik senja mulai meriuhkan kampung, seorang ibu di rumahnya yang sangat sedernaha melahirkan seorang bayi mungil perempuan. Tangis yang nyaring membanaha seisi kampung. Seluruh alam, air, angin, pohon dan burung-burungpun besyukur pada sang Maha Pencipta atas kehadiran sesosok bayi di tengah-tengah keluarga kecil itu.
Dengan penuh sukacita, orang tua bayi tersenyum lebar. Bayi perempuan itu diantarkan pada ayah. Ayah tersenyum, suara serak ketika membisikkan iqamah di telinga bayi, air mata tak kunjung terbendung dan membasahi pipinya. Dia mencium bayi itu.
Waktu berlalu, nama ku adalah Ummu Kalsum, sudah dua tahun aku mengenal lingkungan, sudah dua tahun aku mengenal Ibu dan Ayah. Ummu Kalsum adalah sebuah nama pemberian dari ayah. Ayah menamai aku dengan “Ummu Kalsum” karena ayah ingin anaknya kelak tumbuh menjadi seorang wanita yang shalehah, pintar, anggun dan dapat membanggakan kedua orang tuanya seperti halnya anak nabi Muhammad SAW yakni Ummu Kalsum.
Ayah, adalah ayah yang terbaik karena ayah sangat sayang kepada aku dan Ibu. Selama ini Ayahlah yang selalu bekerja keras banting tulang untuk penghidupan aku dan Ibu. Ayah bekerja sebagai mandor di sebuah proyek bangunan. Penghasilannya hanya cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Walaupun bersisa itu hanya sedikit, dan seringkali Ayah menabungkan uang itu di sebuah bank daerah. Kata ayah itu untuk bekal kamu dan ibu nanti dikemudian hari. Aku hanya menggangguk, walaupun sulit bagiku untuk memahami maksud Ayah karena aku masih terlalu dini untuk tahu hal itu.
Pagi itu terasa cukup berbeda, cahaya matahari terkalahkan oleh awan mendung yang tak kunjung menurunkan hujan. Ayah sudah mempersiapkan diri untuk berangkat kerja, Ibu menyiapkan sarapan di meja kecil kami yang sederhana. Aku ikut duduk di samping kursi ayah. Ayah tersenyum, karena melihat ku yang tidak bisa menjangkau sarapan yang ada di depanku. Karena majanya terlalu tinggi untuk ukuranku. Tahukah engkau sobat itulah hari terakhir ku makan bersama Ayah. Pagi itu ayah berkata pada ibu.
“ Bu, sekiranya aku sudah pergi bekerja dan tidak bersama kalian lagi aku harap kamu bisa mendidik Ummu menjadi anak yang slalehah, taat melaksanakn shalat dan bisa membahagiakan orang-orang di sekelilingnya”.
Ibu hanya menggangguk tanpa berfikir lebih jauh dalam lagi mengapa terlontar dari mulut Ayah kata-kata itu, Ibu mengaggap itu hanya nasehat biasa yang disampaikan Ayah sebelum berangkat kerja. Ayah berangkat kerja, Ayah pamit aku dan Ibu menyalami ayah.
“Assalamu’alaikum….”
Terdengar suara seseorang mengucapkan salam, dan mengetuk pintu rumah kami. Ibu bergegas membuka pintu. Ternyata adalah Wak Jago temen sekerja ayah di proyek bangunan.
“Ada apa Wak??”, “Siti, kuharap kamu bisa tabah mendengar kabar ini, suamimu Yusuf telah meninggal setalah ia melaksanakan shalat Zuhur di proyek”.Tangis Ibu pecah dan langsung berlari memelukku yang sedang asyik bermain boneka. Aku hanya heran.
“Mengapa Ibu menangis??”.
“Ayahmu nak, dia telah pergi meninggalkan kita selama-lamanya”.Ketika jenazah Ayah dimakamkan di pemakaman umum, Ibu tetap terus menangis, kerabat-kerabat terdekatpun tidak hentinya menghibur dan memberi semangat pada Ibu.
Pagi, ketika aku sarapan bersama Ibu, Ibu tetap bersedih mungkin ia teringat dengan Ayah. Dia memandangku dan memelukku.“ Ayahmu sudah tidak ada Ummu, kita hanya tinggal berdua disini, dirumah kecil peninggalan Ayahmu, apakah Ibu sanggup membesarkanmu sehingga menjadi anak seperti yang Ibu dan Ayah harapkan??”.Saat itu, aku tidak terlalu mengerti dengan kematian, aku hanya tahu bahwa Ayah tidak akan kembali berkumpul bersama-sama lagi dengan aku dan Ibu, aku menggapap bahwa Ayah melakukan perjalanan jauh dan tidak akan pernah pulang.
Ibu hampir putus asa, bagaimana kami bisa hidup tanpa Ayah, Ibu tidak bekerja, selama ini Ibu hanya dirumah. Tapi, ternyata Ayah telah menyiapkan semua yang kami butuhkan. Wak Jago memberitahukan bahwa Ayah menabung di sebuah bank, dan uang itu bisa Ibu jadikan modal untuk berwirausaha. Wak jago bercerita pada Ibu “Yunus berkata pada ku dulu, bahwa kalau aku meninggal kamu tolong beritahu pada istri ku bahwa ku memiliki simpanan di bank, beri tahu padanya, gunakan uang itu untuk melanjutkan hidupmu dan Ummu Kalsum”
Setelah mendengar perkataan itu, Ibu kembali lagi menangis terharu dan berterima kasih pada wak Jago karena telah menjadi sahabat Ayah selama ini, dan berterima kasih karena telah memberitahukan hal itu pada Ibu.
Hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi ku, taukah engkau kanapa sobat? Karena hari ini adalah hari pertama aku memakai seragam merah putih, seragam yang aku idam-idamkan semenjak dulu. Sebenarnya bukan hanya seragam merah putih yang aku idamkan tapi, aku bangga bisa bersekolah dan mengetahui ilmu-ilmu baru dari guruku. Dulu, saat aku dan ibu pulang dari pasar melewati sebuah sekolah dasar, aku bertanya pada ibu, “Bu, kapan ya aku memakai seragam merah putih seperti kakak-kakak itu?” Ibu menjawab “sabar Ummu, sebentar lagi ketika kamu sudah genap berumur enam tahun pasti kamu akan memakai seragam seperti kakak itu. Aku tersenyum dengan polosnya kepada Ibu”.
Aku diaantar Ibu pergi kesekolah, disekolah terlihat teman-temanku diantar oleh Ibu dan Ayahnya. Ibu menatapku, mungkin Ibu tahu apa isi hatiku dan langsung berkata,
“Di sini ada Ibu Ummu, Ibu akan menjadi Ibu dan sekalian menjadi Ayah untukmu, kamu harus tumbuh menjadi anak yang baik”.Ibu membuka warung kecil di depan rumah, yang diisi dengan makanan-makanan ringan untuk anak-anak. Dengan hasil warung itu ibu bisa menyekolahkanku dan sebahagiannya lagi bisa Ibu gunakan untuk makan kami sehari-hari.
Sekarang aku telah duduk si bangku SMP, hasil warung Ibu tidak cukup lagi untuk membiayai sekolahku. Karena biaya belajar di SMP lebih mahal dari pada di SD dulu. Hampir saja aku teramcam berhenti sekolah karena uang sekolahku telah nunggak 4 bulan. Ibu tidak mau hal itu terjadi, tidak ingin membuyarkan mimpi-mimpi yang telah kurangkai indah. Ibu berusaha mati-matian untuk melunasinya, sampai-sampai Ibu bekerja sebagai buruh usaha kue di sekitar kampung sebelah. Ibuku hanya dibayar Rp. 5000 setiap harinya. Ibu mengumpulkan uang itu lama-lama uang itu terkumpul dan dibayarkan pada uang sekolahku.
“Ibu harus bisa menyekolahkanmu setinggi mungkin Ummu, agar kamu menjadi anak yang pintar dan sukses di kemudian hari, dan membuat Ayah bangga melihatmu dari sana”Itulah cita-cita Ibu untukku.
Keuangan kami makin merosot, tuntutan ekonomi semakin meningkat. Ditambah lagi Ibu harus dibebani dengan membayar segala keuangan untuk kelancaran ujian akhirku di SMP. Banyak yang harus dibayar Ibu. Uang perpisahan dan uang untuk melanjutkan ketingkat yang lebih tinggi lagi.
Karena begitu terdesaknya, Ibupun menjual warung yang dibangun dengan modal dari Ayah dulu. Ibu terpaksa melakukan itu karena kami tidak memiliki apa-apa lagi. Ibu telah berusaha meminjam kesana-kemari tapi usaha Ibu tidak mendapatkan hasil. Hingga pada suatu saat ada yang menawar warung kami. Dan ibu langsung memberikannya.Akhirnya aku bisa melanjutkan sekolahku ketingkat yang lebih tinggi lagi, dengan uang hasil penjualan warung itu.
Aku tahu, walaupun Ibu tidak menyuratkanya bahwa dalam hati nurani Ibu ingin sekali menjadi seperti orang lain yang tidak serba kekurangan. Aku dapat membaca dari raut wajah Ibu. Ingin seperti orang lain yang jika anaknya meminta sesuatu langsung ada tanpa bersusah payah terlebih daluhu.
Tapi aku yakin bahwa Ibu adalah orang yang yang sangat sabar, Ibu orang yang iklas menerima keadaan kami yang seperti ini. Karena pada suatu saat nanti Allah SWT akan mengubah nasib kami, sesuai janji-NYA dalam Al-Qur’an yang makna bahwa “ Allah SWT akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu mau berusaha dan berdo’a kepada Allah SWT ” . Ibu adalah orang yang ta’at rajin berdo’a dan juga berusaha.
Disekolah Alhamdulillah aku selalu mendapat peringkat. Ketika pengambilan rafor Ibu selalu berdiri disampingku untuk menerima penghargaan dari sekolah. Setidaknya sekarang itulah yang dapat aku berikan pada Ibu. Walau cita-cita ku untuk Ibu lebih dari itu. Itu merupakan jembatan bagiku untuk menuju yang lebih baik lagi.Setelah tamat dari SMA aku diterima diperguruan tinggi faforit. Ibu tetap mensupport dengan do’a dan usaha. Saat itu Ibu bangga padaku, walaupun perjuangannya belum berakhir supaya aku tetap bisa berkuliah.
Dikampus aku diangkat menjadi asisten dosen. Dosenku seorang muslimah sejati, ia tabjub denganku sehingga ia mempercayakanku menjadi asistennya. Dengan uang hasil menjadi seorang asisten aku bisa membiayai kuliahku sendiri, uang itu cukup bagiku. Ibu tak perlu lagi mengirimiku setiap bulannya. Aku bersyukur, tapi cita-citaku untuk Ibu belum sepenuhnya terwujud. Saat aku lulus sebagai sarjana biologi. Aku ditawarkan menjadi dosen di kampus dan beasiswa S2 ke Australia.
Inilah puncak kebahagiaanku, aku tak henti-hentinya bersyukur pada Allah SWT. Aku akan mewujudkan cita-cita Ibu untukku dan juga cita-cita ku untuk Ibu. Aku berhasil menjadi seseorang yang diharapkan Ibu dan Ayah. Aku mengajak Ibu pergi menunaikan rukun Islam yang kelima. Setelah itu Ibu aku hadiahkan sebuah rumah cantik.
“Inilah untukmu Ibu, walaupun aku tak kan mampu membalas segala jasamu. Tapi aku burusaha membuat Ibu bahagianya. Dan membuktikan pada Ayah, bahwa aku bisa tumbuh menjadi seorang anak yang shaleha, pintar, anggun serta membanggakan kedua orang tua, sesuai dengan makna namaku yang Ayah berikan”.
Selamat hari Ibu. Ibu adalah segalanya bagiku, Ibu adalah air mata cinta bagiku, kemulian dan kebahagiaan bagiku. Do’a ku untukmu Ibu “Semoga Ibu selalu sehat dan bahagia, serta diberi umur yang berkah oleh Allah SWT”. Aku berharap semoga aku juga bisa sepertimu Ibu, yang selalu tegar, sabar walaupun tanpa kehadiran Ayah.Ibu, You Are The Best Women In The WorldIbu memelukku dan menangis terharu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar